PROFIL

Kabupaten Kayong Utara merupakan salah satu kabupaten yang terletak di sisi selatan Propinsi Kalimantan Barat. Secara astronomis, Kabupaten Kayong Utara terletak pada koordinat 00 43’5,15” Lintang Selatan sampai 10 46’35,21” Lintang Selatan dan 1080 40’58,88 Bujur Timur sampai 1100 24’30,05” Bujur Timur. Didukung dengan beragam situs sejarah dari pra sejarah, sisa kolonial Belanda, Jepang serta sisa masa kerajaan yang ada, menjadikan Kayong Utara mempunyai daya tarik tersendiri di mata wisatawan mancanegara. Apalagi, binatang langka yang dilindungi yakni orangutan, menjadi ciri khas dari kelengkapan Taman Nasional Gunung Palung. Masyarakat Kayong Utara asli pada umumnya adalah Melayu. Tetapi, suku bangsa Madura, Bugis, Jawa dan Bali hidup berdampingan dengan harmonis.

CORAK BUDAYA

Corak budaya yang dominan di Kabupaten Kayong Utara adalah budaya Melayu. Melayu di wilayah ini dikenal dengan nama Melayu Kayung. Menurut beberapa tradisi lisan seperti kisah Tuk Upui dan Tuk Bubud, Nek Takon dan Nek Doyan yang dipercaya sebagai nenek moyang Tanah Kayung, dengan demikian Melayu maupun Dayak adalah dari keturunan yang sama. Sementara dari kisah danau Pateh Inte dan Demung Juru menjelaskan bahwa terpisahnya orang Darat (Ulu) dengan orang Laut saat malapetaka di pemukiman yang sekarang menjadi danau Demung Juru dan Pateh Inte yang terletak di desa Ulak Medang Kecamatan Muara Pawan. Orang-orang mengungsi ke hilir, inilah yang menjadi cikal bakal Melayu Kayung. Sedangkan yang mengungsi ke hulu merupakan cikal bakal orang Darat (Ulu) saat abad ke-18 disebut Dayak oleh orang Inggris. karena orang Melayu menetap di pesisir pantai Kemudian terjadi percampuran dengan penduduk pendatang. Oleh karena itu, saat ini Melayu Kayung merupakan gabungan dari beberapa suku, antara lain: pendatang dari Jawa (Prabu Jaya), pendatang dari Palembang (Sang Maniaka), pendatang dari Bugis (Daeng Manambon), pendatang dari Brunai (Raja Tengah), pendatang dari Arab, pendatang dari Siak (Tengku Akil), dan para pendatang lain yang bergabung dan mengaku dirinya Melayu Kayung.

OBJEK PEMAJUAN KEBUDAYAAN

  • MANUSKRIP

Ada beberapa manuskrip kuno yang masih tersimpan di Kayong Utara, seperti Surat Tanah yang dikeluarkan zaman belanda dan catatan penganggakan kepala kampung di zaman kerajaan sukadana. Catatan kuno tentang Sukadana, banyak tersimpan di musem luar seperti Tropen Musem Belanda.

  • TRADISI LISAN

Tradisi Lisan yang masih terpelihara di Kabupaten Kayong Utara diantaranya Syair Gulung; Berbalas Pantun; Bekesah/ Cerita Rakyat seperti Legenda Goa Nek Takon, Legenda Tok Bubut, Legenda Pangeran Sindang Panape, Asal Usul Kerajaan Sukadana, Asal Usul Kerajaan Simpang, dan Asal Usul Kerajaan Tanjung Pura.

  • ADAT ISTIADAT

Ada beberapa Adat Istiadat yang masih sering dilaksanakan di Kabupaten Kayong Utara. Adat Istiadat tersebut diantaranya Caboh Kampung, Nyemah Laut, dan Belamin.

  • RITUS

Ritus yang sering dilakukan oleh Etnis Melayu di Kabupaten Kayong Utara diantara adalah Bersih Desa atau disebut Caboh Kampung, Nyemah Laut atau ngelarung sesajen kelaut, Mandi Tujuh Bulanan bagi wanita Hamil, Gunting Rambut Bagi Bayi dan Naik Ayun (Bagi bayi yang akan naik ayunan). Malam Berinai, Hadrah Menjelang Perayaan Pernikahan, Tepung Tawar, Mandi Syafar / Robok – Robok, Mandi 3 Malam Pengantin, Baca Surah Barzanji Sebelum Pemberian Nama Bayi, Lempar Mayang, Munggah Pengantin atau berpindah ketempat pengantin lelaki.

  • PENGETAHUAN TRADISIONAL

Untuk pengetahuan tradisional yang terkenal di Malang adalah tentang kuliner seperti pembuatan Sayur Asam Pedas Ikan Pari, Pembuatan Kue Srikaya Betulang. pengobatan pijat tradisional patah Tulang.

  • TEKNOLOGI TRADISIONAL

Teknologi tradisional yang terdapat di Kabupaten Kayong Utara diantaranya adalah Bepantan yakni teknologi pembuatan senjata dan alat pertanian secara tradisonal, Teknologi Pembuatan Rumah secara tradisional, Anyaman Tikar Pandan, dan Anyaman Lidi Daun Nipah.

  • SENI

Seni yang masih berkembang dan dilestarikan di Kabupaten Kayong Utara terdiri dari seni tari, teater, sastra, musik dan film.

  • BAHASA

Bahasa yang hidup dan berkembang di Kabupaten Kayong Utara dan masih dipergunakan dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari yakni bahasa melayu dialek Kayong Utara.

  • PERMAINAN RAKYAT

Permainan rakyat yang terdapat di Kabupaten Kayong Utara dianatarnya adalah pangkak dan uri gasing, balap karung, bola dangdut, kaki antu atau engrang, main cungkit, sendal terompa, main cungkit, main tabak cengklek, kasti, gelasan atau galah hadang, balap menggunakan peledah kelapa atau pinang, adu biji durian, campak lambung, petak umpat atau tapok – tapok, main bola dari getah atau karet, panjat pinang, lomba sampan bidar, terompet dari batang padi dan daun kelapa , kapal – kapalan dari sabut kelapa, kapal-kapalan dari kulit jeruk, kapal-kapalan dari kayu pelaek, kapal-kapalan atau motor klotok dari barang bekas seng yang dikasih minyak kelapa, balap sampan jukong, mainan mahkota dari daun nangka, mainan boneka dari kain bekas, mainan congkak dari cangka kerang, membuat topeng dari kulit jeruk, mainan bola dari daun kelapa, main ampar-ampar pisang, bang- bang senabuk, tom-tom tempoyak, cik – cik periuk, cang-cang cericit, dan main tapok bulan.

  • OLAHRAGA TRADISONAL

Olahraga tradisional yang sudah sering ditampilkan dan dilombakan adalah pencak silat, sedangkan yang jarang dan sudah tidak ditampilkan perlu di gali dan dikenalkan kembali dikalangan anak didik atau generasi adalah dayung sampan tradisional.

  • CAGAR BUDAYA

Cagar Budaya yang tersebar dan masih dipelihara oleh masyarakat Kabupaten Kayong Utara diantaranya adalah sebagai berikut Makam Penembahan Tengku Abdul Hamid, Makam Raja Riau, Makam Tok Mangku, Meriam Bujang Koreng, Batu Lesung Penumbuk Bedak Putri Raja Simpang Matan, Mercusuar Pulau Serutu, Prasasti Cina/ Batu Cina, Telapak Kaki Raksasa, Telapak Kaki Ceng Ho, Batu Cap/Batu Bertulis, Benteng Belanda, Tangsi Belanda, Penampungan Minyak Belanda, Rumah Tengku Abdul Jalil, Goa Macan, Situs Gunung Totek dan lain sebagainya.